Kamis, 25 Maret 2010

Sebuah Labirin

mengapa harus seperti ini akhir ceritaku.
aku terjebak di sebuah labirin yang ku buat sendiri. awalnya aku hanya ingin membuat sebuah trowongan biasa tapi, semakin lama aku semakin terlena oleh keadaan trowongan itu. aku tak sadar bahwa aku bukan lagi membuat suatu trowongan biasa tapi, sebuah labirin yang berkelok-kelok dan tak berujung. yang membuat diriku sendiri terjebak di dalamnya, aku tak tau arah mana yang benar. setiap ku langkahkan kakiku kearah jalan yang menurutku benar tapi, ternyata jalan itu adalah jalan buntu.
Tuhan... aku lelah dengan semua ini. dengan apa yang ku buat sendiri. apa aku tak akan bisa keluar dari dalam labirin ini Tuhan?
Tuhan... tolong hamba!
tolong krimkan seorang yg berhati malaikat untuk membantu hamba... Tuhan!
hamba sungguh-sungguh tak tau jalan keluarnya.
berikan secercbah cahaya untuk menerangi jalanku Tuhan.

"Sosok Itu"

mengapa kepercyaan yang aku bangun dengan susah payah kini pupus.
aku kecewa dengan semua ini, padahal luka ku yang dulu belum kering, kini telah di tambah luka yang lebih besar lagi.
aku benci dengan semua yang sejenis dengan sosok itu. sosok yang kadang tampil begitu gagah namun tak ayal tampil begitu anggun.
kadang aku tak mengerti kata "itu". terlalu rumit untuk ku telan mentah-mentah. mungkin karena terlalu muak aku menjumpai sosok itu. aku tak bisa pungkiri sosok itu selalu berada dilingkaran hidupku.
aku ingin lari, lari sekencang-kencangnya.
ingin terbang, terbang setinggi-tingginya.
agar aku tak bertemu dengan sosok itu.
aku tak peduli dengan apa yang dibicarakan orang tentang sosok itu. sosok yang menurutku tak perlu ada di sampingku.
andai sayap tipis ku ini dapat di kepakkan, aku ingin pergi jauh dari sosok itu.
mengelilingi jagat raya tanpa didampingi sosok itu.

"KAU"

awalnya kau memperkenalkan ku dengan sosok yang begitu sopan, hingga membuat kebencian yang ku tanam selama bertahun-tahun terhadap sosok itu luntur seketika.
dengan perlahan sosok itu membantuku untuk membangun kepercayaanku yang telah hancur berkeping-keping.
dengan mengumpulkan satu persatu kepingan yang telah hilang ditelan usia.
tapi, ketika kepingan itu akan tersusun sempurna, tiba-tiba dengan satu petikan jari tanganmu, kau menghancurkannya.
ya... menghancurkan kepercayaanku terhadap sosok itu.
namun, aku berterima kasih padamu. karena kau telah memperkenalkanku dengan sosok yang begitu membuatku nyaman ketika bersamanya, sosok yang membuat hidupku berwarna, dan sosok yang pernah mengajarkanku apa arti cinta dan hidup yang sebenarnya.
sosok itu adalah "KAU".

Ibu...

Ibu...
Matahari takkan membuatmu mengernyitkan dahi
Burungpun tak kan mau bernyanyi bila kau mengeluarkan suara tangis
Begitu pula kupu-kupu, ia tak ingin membuatmu termenung sendiri
Terlebih lagi aku yang tak pernah ada arti di hadapanmu, tetap tak ingin membuatmu sendiri
Sendiri dalam lara
Sendiri dalam tangis
Ibu...
Kau tahu?
Segalanya yang Allah ciptakan juga tak ingin membuatmu mengeluarkan air mata
Apalagi meneteskannya dari matamu yang indah
Walaupun itu hanya satu tetes itu sangat berarti ibu
Sangat berarti!
Ibu...
Suatu saat nanti, kami akan berlari menghampirimu
Mendekapmu dengan cinta
Dan aku, aku akan menjadi yang pertama untuk mengecup keningmu dan berbisik
AKU SAYANG IBU.....!!!

Selasa, 23 Maret 2010

dan aku ...

batu memang keras, tapi tetap dapat hancur oleh tetesan air yang terus menerus membasahinya.
pohon memang kokoh, tapi tetap dapat roboh jika tanah yang di tempatinya tandus.
bunga memang indah, tapi tetap dapat sirna jika kelopaknya layu dan berguguran.
laut memang luas, tapi tetap dapat membahayakan jika tak waspada olehnya.
langit memang cerah, tapi tetap dapat muram jika awan sedang marah padanya.
dan aku...
aku bisa keras jika orang jahat bersikap keras padaku
aku bisa kokoh jika orang yang ku sayangi merangkulku
aku bisa indah jika orang menghargai kekuranganku
aku bisa luas jika orang melihat hatiku
aku bisa cerah jika orang berbagi ilmu padaku
dan aku...
aku dapat hancur seperti batu
aku dapat roboh seperti pohon
aku dapat layu seperti bunga
aku dapat muram seperti langit
karena aku pun makhluk ciptaan Allah...
yang membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekelilingku
terutama keluargaku.

sebuah pena

kini aku kosong
tak ada lagi rangkaian warna yang menghiasiku setiap hari
kini yang ada hanya sepi
sepi dalam penantian
tak ada episode-episode berikutnya
entah kapan episode itu akan berlanjut
aku tak tahu
tapi yang pasti aku menunggu sebuah pena
aku rindu pada pena itu
pena yang selalu kunanti kehadirannya
pena yang selalu menari di atasku
pena yang selalu menghabiskan lembaran-lembaranku
aku rindu dengan semua itu
dengan goresan-goresannya yang lembut
pena itu sangat berbeda dengan pena-pena yang lainnya
pena itu begitu gagah ketika ia berdiri
pena itu begitu lancar ketika ia menari
pena itu banyak menyimpan tinta
entah berapa banyak tinta yang ada di dalamnya
karena selama ini tinta itu tak pernah habis
walau telah mengisi berlembar-lembar diriku
selama ia sudah tak mengisiku kembali
selama itu pula diriku kosong
walau kini banyak pena yang mencoba mengisiku
tapi, rasa goresan yang mereka buat
sangat... berbeda
aku tak merasakan hal yang sama
ketika pena-pena itu menari di atasku
entah kapan aku dapat merasakan hal yang sama seperti dulu
sampa saat ini aku masih menunggumu...
dan sampai saat ini tak ada pena yang ku izinkan menggoresku di halaman ini
halaman yang kau tinggalkan begitu saja
halaman yang belum kau selesaikan
dan hanya ujung penamu yang ku izinkan menggoresnya kembali...
aku masih menunggu goresanmu di halaman ini!